Home - Pendidikan - Bocah-bocah Pengungsi Rohingya Itu Hafiz Quran
Pasang Banner Disini : Hubungi 0823 8639 7918

Bocah-bocah Pengungsi Rohingya Itu Hafiz Quran

bocah-bocah-pengungsi-rohingya-itu-ternyata-penghapal-quran-1505299 
Pengungsi Rohingya (http://www.iran-daily.com/)

Tubuh mereka kurus kering. Mereka baru saja bertaruh nyawa. Terombang-ambing oleh gelombang lautan yang ganas.

TUTELAH.COM –  Anak-anak pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh ternyata menyimpan bakat luar biasa. Beberapa di antara mereka adalah penghafal Alquran (hafiz). Itulah yang ditemukan oleh relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT), Ahmad Faisal Ramadhan, saat berkunjung ke kamp pengungsi Rohingya di Lhoksukon, Aceh Utara.

Salah satu anak Rohingya penghapal Alquran itu adalah Subiah. Bocah perempuan berhijab. Ada pula sepasang kakak-beradik yang juga hafiz. Kini, mereka terselip di antara ratusan pengungsi. Terusir dari tanah kelahiran dan terdampar di negeri orang.

Tubuh mereka kurus kering. Mereka baru saja bertaruh nyawa. Terombang-ambing oleh gelombang lautan yang ganas. Mereka juga harus terpisah dengan orangtua. Ayah dan ibu mereka ada yang terdampar di Malaysia. Bahkan, ada pula orangtua mereka yang tewas di tengah laut. Atau juga sudah tiada saat masih di tanah kelahiran mereka, Myanmar.

Tapi syukurlah… mereka selamat. Sehingga tetap bisa mengajarkan ilmu-ilmu Alquran kepada sesama. Kini anak-anak kurus kering itu bisa tinggal lebih tenang, meski di negeri orang. Dan itu juga sementara. Namun, mata-mata sayu itu memancarkan harapan besar di bumi serambi Mekah itu.

Ingin tahu kisah anak-anak Rohingya penghapal Alquran? Baca selengkapnya di sini. (Ism)

 

oleh: Ahmad Faisal Ramadhan
Integrated Digital Communication Officer

Hadir di medan isu, di lapangan, sungguh berbeda. Lebih dari sekadar inspiratif. Ada pencerahan luar biasa yang diserap dengan hadir di tengah pencari suaka dari Myanmar, di Aceh. Aku bersua mereka Rabu sore, 27 Mei 2015, menjelang maghrib. Aku satu dari lima rombongan terbaru, sejak ACT terlibat dalam penanganan Muslim Rohingya yang kini berada di Aceh. Rombongan kami sampai di Posko Pengungsian warga Rohingya yang berada di Lhoksukon, Aceh Utara setelah menempuh dua jam perjalanan udara dan delapan jam perjalanan darat.

Dinyatakan bahwa jumlah pengungsi etnis Rohingya dan Bangladesh yang kini berada disitu ada ratusan orang. Sore itu suasana ramai pengunjung. Lapangan terbuka di tepi pantai Kuala Cangkoy, mulai menunjukkan pergerakan para pencari suaka itu untuk bersiap menyambut adzan Maghrib. Warga setempat masih terus mengirimkan bantuan atau sekadar beramah-tamah dengan para pengungsi. Meski agak sulit berinteraksi (karena perbedaan bahasa), saya merasakan kedekatan antara warga sekitar Kuala Cangkoy dengan para pengungsi. Benar-benar dekat tanpa sekat.

Usai shalat Maghrib berjama’ah di Mushalla ACT, tim ACT mencoba menyelami sosok-sosok pencari suaka itu. Lewat Hussain, Muslim Rohingya yang mampu berbahasa Melayu dan sedikit Bahasa Inggris, kami bisa mengenal sedikit demi sedikit siapa mereka. Hati bergetar hebat. Wajah-wajah nelangsa, jasad-jasad kurus, anak-anak bermata sayu itu, ternyata anak-anak yang memiliki keluarbiasaan.

Lewat Hussain, aku jadi tahu, banyak di antara anak-anak belia Rohingya yang ada di pengungsian ini, penghafal al-Quran. Salah satunya, Subiah, gadis baru berusia 7 tahun. Ia tak sendiri – sebagai hafidzah (penghafal Quran). Ada sepasang kakak-beradik yang juga hafal Quran. Benar jasad mereka ringkih, dan dalam usia sebelia itu, bersama berpuluh anak yang baru belasan tahun, harus mengarungi ganasnya samudera dan kejamnya perahu. Banyak yang sendiri atau bersama saudaranya yang juga kanak-kanak atau remaja, tanpa orangtua atau sanak saudara.

Ya, “anak-anak surgawi” ini terpaksa terpisah dari orangtuanya. Ada yang memang sudah tak punya orangtua, ibu atau ayah, bahkan ayah-ibunya tewas mengenaskan akibat kekerasan di tanah kelahirannya, Myanmar. Yang di Kuala Cangkoy ini sebagian terpisah kapal dengan orangtuanya. Mereka dengar, sang ayah ada di kapal yang mendarat di Malaysia, sementara mereka terdampar atau diselamatkan nelayan dan kini berada di Aceh.

Luar biasa, kenyataan sepahit ini harus ditanggung anak-anak belasan tahun seperti mereka. Saat kami temui, mereka mulai bisa menenangkan diri. Kondisi mereka dalam keadaan baik. Fisik mereka terlihat sehat, bahkan mereka mampu ‘melayani’ kami dengan senyuman hangat. Alunan al Qur’an yang kian sering dibacakan di pengungsian, berkat sumbangan kitab Al Quran dari banyak pihak, menepis sepi dan galau. Mereka tenang karena keyakinan pertolongan Allah.

Aku malu, dalam kondisi tertekan, banyak penghafal Quran usia belia di tengah Muslim Rohingya, sementara aku yang hidup di negeri aman-damai seperti Indonesia, belum banyak ayat dan surat yang ku hafal. Sampai kami berpisah, masih lekat senyuman mereka, memancarkan rasa syukur bersua orang-orang baik. Senyum mereka seakan mengajariku yang sudah puluhan tahun dalam kondisi aman-aman saja, untuk lebih tawakal menjalani hidup dan lebih banyak bersyukur dengan amal saleh. Cobaanku, tak ada secuil pun dibanding derita mereka, anak-anak belia Rohingya. Dan mereka, masih bisa menghafal al Quran. Dream.co.id

Komentar Pembaca

komentar

#Tag : Riau | Berita Riau | Berita Rokan Hilir | Pekanbaru | Berita PekanbaruKampar | Siak | Walikota Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul 
Untuk Pemasangan Iklan Hubungi Kami : 0823 8639 7918

Check Also

10 Besar Kampus dengan Rata-rata Nilai Tertinggi SBMPTN 2016

JAKARTA, – Hasil Seleksi Bersama SBMPTN 2016 diumumkan serentak pada Selasa (28/6/2016). Sejumlah kampus “merajai” …