Home - Nasional - Dua Faktor yang Membuat Kudeta Turki Gagal
Pasang Banner Disini : Hubungi 0823 8639 7918

Dua Faktor yang Membuat Kudeta Turki Gagal

Kudeta Turki
241468638795

Jakarta – Ada dua komponen atau faktor yang membuat kudeta militer di Turki gagal. Dua faktor itu adalah dukungan masyarakat dan soliditas aktor keamanan nasional.

“Para prokudeta belum sukses menaklukan dua komponen penting dari kriteria kudeta yang berhasil, yakni dukungan masyarakat dan soliditas aktor keamanan nasional,” ujar pengamat politik internasional Arya Sandhiyudha kepada BeritaSatu.com di Jakarta, Sabtu (16/7)

Dikatakan, demokrasi telah menggariskan bahwa yang akan menentukan keluar sebagai pemimpin di Turki adalah rakyat. Counter coups mendukung Presiden Recep Tayyio Erdogan bergerak cepat dan masif. Mereka juga keluar rumah pada dini hari untuk mengungkapkan dukungan kepada presiden dan partainya.

Militer dikerahkan untuk melakukan pendudukan dan pengamanan di tempat-tempat umum utama seperti, Taksim Square, tetapi sekarang kehadiran aksi balasan lebih luas dan kuat. Polisi antihuru-hara juga telah bergabung dengan para demonstran aksi balasan, menembakkan senjata di udara, dan meminta tentara untuk meninggalkan tempat.

“Meski militer menembaki demonstran di Jembatan Bosporus, mereka yang menghasut kudeta jelas malah makin kehilangan dukungan publik. Hal unik, Erdogan masih menjadi magnet gerakan rakyat lawan kudeta di jalanan,” ujar doktor bidang Ilmu Politik dan Hubungan Internasional dari Universitas Fatih, Turki, itu.

Menurutnya, klik militer juga salah kalkulasi dalam menduduki tempat strategis. Televsi nasional dikuasai, namun mereka lupa provider satelitnya ada di tempat lain. Respons cepat kepala cabang AKP Istanbul juga menentukan. Dia pergi ke saluran TV swasta menyerukan warga untuk menolak kudeta dan menuju ke bandara untuk menyambut kedatangan Erdogan.

“Selain dukungan rakyat, kudeta yang sukses membutuhkan soliditas pasukan keamanan. Di Turki, ada tanda-tanda konflik di antara berbagai lapisan militer ternyata masih eksis. Diantara buktinya, diduganya Muharrem Kose sebagai aktor utama kudeta. Sebelumnya, ditunjuknya Panglima Militer baru, Umit Dundar menggantikan Hulusi Akar, juga mengindikasikan itu. Belum lagi kepolisian yang berperan sebagai ujung tombak penangkapan militer prokudeta. Maknanya, aktor keamanan nasional terbelah,” ujarnya.

Peraih gelar master bidang studi strategis dari RSIS NTU, Singapura itu menambahkan, hal lain yang tidak bisa dinafikkan adalah pernyataan sikap antikudeta dan dukungan terhadap pemerintahan sipil demokratis dari Amerika Serikat dan Jerman. Selain itu, sejak awal partai-partai dan kelompok oposisi juga sangat berperan bagi gagalnya kudeta.

“Sejak awal saya telah menduga bahwa peluang kugeta gagal sangat tinggi karena beberapa hal. Pertama, polarisasi faksi. Seperti yang kita lihat, pada 2015 ketika pemilu Turki, Partai Keadilan dan Pembangunan memenangkan 49,5% suara. Itu menunjukkan bahwa negara ini sangat terpolarisasi antara kaum sekuler, Islamis, Kurdi, dan nasionalis,” ujarnya.

Dikatakan, Turki memiliki sejumlah oposisi terhadap Islam yang menentang agenda politik berhaluan neo-Ottoman dalam arah kebijakan luar negeri Erdogan. Tetapi, di sisi lain, mereka pendukung Presiden yang absah secara demokratis.

Selain itu, ada banyak orang Turki yang anti-Erdogan belum tentu juga anti-kudeta, karena mengingat trauma ketidakstabilan ekonomi dan politik di masa lalu ketika kudeta terjadi di Turki. Upaya kudeta ini adalah jelas merupakan produk dari faksi elite dalam militer yang tampaknya tidak sukses untuk menjalankan kudeta.

Arya mencatat, kudeta di Turki sebenarnya nyaris berhasil. Pihak pengkudeta sempat menguasai beberapa organ vital, seperti transportasi. “Tanda-tanda pertama dari kudeta itu terungkap melalui upaya sistematis pemotongan kendali atas jalur transportasi. Para prajurit ditempatkan di jembatan utama di Istanbul dan menyumbat beberapa jalan di Ankara dan Izmir. Pesawat Jet Turki F-16 terbang rendah di langit-langit Ankara. Warga sipil disuruh tinggal di dalam rumah. Bandara di seluruh kota ditutup dan penerbangan dihentikan,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, pengkudet menggunakan momentum ketika Presiden Erdogan berada di luar kota. Tentara Turki menggunakan kesempatan itu untuk mengepung markas Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Istanbul. Tank menuju ke istana perdana menteri di Ankara, tetapi semua dibalas warga pemrotes dengan memblokir beberapa tank. Helikopter prokudeta dilaporkan ditembak di istana ketika tank mendekat.

“Pengkudet juga sempat menguasai kendali infrastruktur utama. Meskipun tidak jelas apakah listrik terputus di beberapa bagian dari kota utama Turki, jelas bahwa tentara melakukan sabotase terhadap beberapa infrastruktur utama pemerintah, seperti Dolmabahce Palace,” ujarnya.

Militer pengkudeta juga sempat menguasai media komunikasi. Beberapa media dan saluran komunikasi diambil alih tentara, termasuk kantor televisi negara dan memerintahkan karyawannya untuk meninggalkan tempat. Karyawan media pemerintah diberitahu bahwa negara berada dalam tanggung jawab militer, sehingga mereka disarankan tinggal di rumah dan diberitahu bahwa siaran berikutnya akan ditunda hingga esok harinya. Internet lainnya diblokir beberapa saat dan dibuat melambat.

“Namun, semua itu gagal karena pihak pengkudeta gagal menguasai dukungan rakyat dan soliditas pelaku keamanan nasional, yang merupakan syarat utama sebuah kudeta,” katanya.

Asni Ovier/AO

BeritaSatu.com

Komentar Pembaca

komentar

#Tag : Riau | Berita Riau | Berita Rokan Hilir | Pekanbaru | Berita PekanbaruKampar | Siak | Walikota Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul 
Untuk Pemasangan Iklan Hubungi Kami : 0823 8639 7918

Check Also

Tampilan Jokowi yang Kembali Formal Saat Blusukan

Jakarta – Presiden Joko Widodo ‘hobi’ bergaya kasual saat blusukan dan kunjungan ke daerah belakangan …