Home - Riau - Mafia “kencing” CPO makin menjamur di Riau, kenapa? Ini modus & lokasinya..
Pasang Banner Disini : Hubungi 0823 8639 7918

Mafia “kencing” CPO makin menjamur di Riau, kenapa? Ini modus & lokasinya..

30penampungan ilegal alias kencing CPO di Riau_edit
FOTO : Satu Diantara Puluhan Lokasi Penampungan Ilegal CPO di wilayah Riau | pekanbarumx

 

 

 

 

 

 

 

Pekanbaru – Kegiatan ilegal penampungan minyak mentah kepala sawit alias Crude Palm Oil (CPO) yang lazim disebut ‘kencing’ CPO, semakin tumbuh subur di Provinsi Riau. Disinyalir, ada banyak pihak yang terlibat dalam bisnis pencurian ini. Tak terkecuali oknum supir pabrik kelapa sawit (PKS) hingga oknum aparat.
Gabungan Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Provinsi Riau pun mengakui, bisnis hitam ini makin marak seiring bertambahnya jumlah PKS yang setiap hari memproduksi cairan hitam yang bernilai tinggi ini. Hal ini turut memantik niat jahat sekelompok orang membuka peluang bisnis ilegal.
“Sudah berlangsung lama. Istilahnya ‘mafia atau toke CPO’,” ungkap Saut Sihombing, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Riau, Selasa (20/07/16).
‎Pengusaha Resah dan Pasrah
‎Atas keberadaan para mafia yang sangat meresahkan dan merugikan ini, lanjut Saut, berbagai upaya telah dilakukan. “Beberapa tahun lalu, kami pernah melaporkan hal ini ke Polda Riau dan dilakukanlah penangkapan,” ujar Saut.
Namun yang terjadi setelah itu, para penampung CPO curian ini bukannya tutup, malah kini makin marak dan tumbuh subur. Bak jamur, sebutnya, pertumbuhan penampung ilegal ini jelas terlihat, namun, seolah tak terjamah oleh hukum.
“Karena tak rela terus-terusan dimaling dan malingnya makin banyak. Jadi beberapa anggota GAPKI akhirnya cari solusi sendiri dengan memakai jasa pengangkutan. Biasalah, membagi kesulitan. Namun, masih ada juga yang mengirim sendiri,” ujarnya.
Diakuinya, memang dampak penampungan ilegal ini tak terlalu besar pengaruhnya terhadap penurunan kuantitas produksi CPO‎ dalam negeri. Tapi, citra mutu produk CPO asal Indonesia menjadi buruk. Apalagi maraknya jual beli CPO untuk ekspor dipasar gelap.
Selain negara, pengusaha dan petani kelapa sawit juga sangat dirugikan. Saat ini, kualitas CPO Indonesia dihadapkan dengan berbagai tudingan dan kampanye hitam. Baik isu lingkungan, sengketa dan lainnya.
“Ditambah lagi soal penampungan ilegal,” cerita Saut kepada wartawan. “Tentu, kualitas CPO kita dipertanyakan. Saat ini, permintaan pasar menurun, tapi produksi kita malah naik. Dan memang harga CPO juga naik,” sambungnya lagi.
‎Modus Operasi
‎Digali lebih dalam, sumber kelompok pelaku usaha jasa yang menolak identitasnya disebutkan, akhirnya buka suara. Modus penampungan ilegal ini ‎beroperasi dengan kerjasama antara ‘kaki tangan’ si ‘mafia’ CPO dengan para supir dan kernet mobil tangki CPO. Ini modusnya ;
Dimulai dari lokasi penampungan. Ada yang berlokasi dipinggir jalan lintas yang disamarkan dengan warung dan dibelakangnya ditutupi tenda agar kolam CPO tak mudah dilihat. Ada juga yang memilih tersembunyi, namun tak jauh dari jalan. Selain membuat bak atau kolam, ada yang memakai drum untuk menampung.
Selanjutnya mobil tangki CPO. CPO diangkut dari PKS yang ada di beberapa wilayah di Riau. Ada yang bertujuan ke Kota Dumai dan ada juga ke Medan Belawan Provinsi Sumatera Utara.
Saat sebuah lokasi penampungan alias kolam baru dibuka, lalu,‎ ‘kaki tangan’ alias anggota ‎si ‘mafia’ yang biasa dipanggil dengan istilah ‘KPL’ (Kepala Lokasi, red) mulai beraksi. “Para supir dihubungi tim si ‘KPL’ dan dibujuk agar ‘kencing’ disitu,” beber sumber ini dalam perbincangan, Selasa malam.
Supir yang tergiur, akhirnya singgah di lokasi itu. Volume ‘kencing’ CPO per mobil tangki pun beragam. Rata-rata sebanyak 130 kilogram (satuannya per kilo atau per gelang/drum, red)‎ per mobil. Setelah selesai, supir dibayar oleh si KPL dengan harga sebesar Rp4 ribuan per kilo.
Aktivitas kencing ini biasanya dilakukan dalam dua sesi. Sesi pagi hari hingga pukul 11.00 wib dan sesi malam hari hingga pukul 02.00 dini hari. “Kalau kolam sudah penuh, mobil tangki toke datang menjemput,” katanya.‎ “Kapasitas tampungan per kolam biasanya berkisar 6 hingga 8 ton,” sambungnya.
Selain kolam, modus lainnya dengan ‎cara pemindahan langsung dari tangki CPO ke truk berisi drum. Rata-rata tiap drum berkapasitas 100 hingga 160 kilo. Modus ini dipakai agar mudah berpindah tempat ‘kencing’.
Untung bisnis ini pun cukup menggiurkan. Sumber ini mengungkapkan, usai membeli dari supir seharga Rp4 ribuan per kilo, para mafia menjual lagi ke pihak lain seharga Rp6 ribuan per kilo.
Diungkapkan, para mafia ini memanfaatkan celah dari toleransi selisih penyusutan. Dijelaskan, rata-rata volume mobil tangki berkisar antara 25 hingga 35 ton. Namun, tonase setiap mobil tangki ditentukan oleh masing-masing manajemen PKS sesuai tingkat penyusutan akibat penguapan. Toleransi atas selisih penyusutan inilah yang jadi celah atau peluang aksi ‘kencing’ CPO ini.
“Jika ada mobil tangki ketahuan tonasenya menyusut melebihi toleransi saat tiba di tujuan, maka gaji supir lah yang dipotong. Itu konsekuensi yang diterapkan,” ungkap sumber ini.
Menurutnya, aktivitas ini sangat merugikan dan meresahkan. Selain si supir tergiur, juga akibat adanya tekanan. Misalnya, bagi supir yang tak mau ‘kencing’, kadang diancam ataupun diintimidasi dengan berbagai cara saat melintasi jalan.
‎Basis Operasi‎
‎Sumber ini pun mencoba mengecek secara singkat via seluler dari sejumlah kenalannya terkait membeberkan sejumlah lokasi operasi dari para mafia ini. Sedikitnya ada 30 lokasi penampungan yang beroperasi di 5 wilayah kabupaten/kota di Riau. Diantaranya, ada yang hanya menampung CPO, ada yang sekaligus menampung inti buah kelapa sawit baik berondolan dari petani atau hasil kejahatan pencuri alias ninja sawit.‎
‎Sumber ini mengklasifikasikan berdasarkan kelompok toke alias mafia, ‎berikut yang dapat dihimpun :
‎Kabupaten Siak. Beroperasi kelompok ‎Ko Chun, Hutahaen, Guntur, Suandi dan Munte. Yakni di sekitar Kecamatan Minas di Kilometer (KM) 11 dan 36 serta di Kecamatan Kandis di KM 2 dan kawasan Simpang Gelombang.
‎Kabupaten Bengkalis. Beroperasi kelompok ‎Ko Chun, Hutahaean, Tobing dan Tambunan. Yakni dIKecamatan Mandau KM 8 dan 10 ‎ kawasan Kulim dan KM 13 kawasan Duri.‎
Kotamadya Dumai. Beroperasi kelompok ‎Ko Chun, Guntur, Saragi, Nainggolan, Manurung dan Harianja.Yakni di sekitar Kecamatan Bukit Kapur antara lain ; kawasan Rawa Pendek dan Bukit Nenas. Di Kecamatan Dumai Selatan di KM 7 dan KM kawasan Bukit Timah. Ada juga di kawasan perairan.‎
Kabupaten Rokan Hilir. Beroperasi kelompok ‎Ko Chun, ‎Hutahaen, A Wie, Sirait dan Sinaga‎. Yakni disekitar Kecamatan Tanah Putih antara lain ; Simpang Pemburu, Simpang Batang, Simpang Sola ‎kawasanDesa Rantau Bais. Di Kecamatan Pujud di kawasan Simpang Manggala. Juga beberapa lokasi di Kecamatan Bagan Sinembah termasuk kawasan Balam.
‎Kabupaten Kampar. Beroperasi kelompok Sinaga dan Nambela di sekitar Kecamatan Tapung.
Jaringan dan Omzet
‎Berdasarkan data ini, bisa diketahui, lokasi terdekat berjarak tempuh sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Pekanbaru. “Silahkan cek sendiri kalau ragu,” ujarnya.
Disinggung soal penertiban, menurutnya, upaya itu tampak seperti bermain ‘kucing-kucingan’. Ibarat layar tancap, kolamnya bisa berpindah tempat.‎ Mafianya, banyak dikenal tapi tak tersentuh. Diduga, sebutnya, memiliki jaringan oknum aparat agar bebas beroperasi.
Bahkan, oknum wartawan saja tak banyak yang berani masuk ke lokasi lantaran dijaga ketat. “Biasanya, mereka (mafia CPO) paling anti ada wartawan memfoto lokasi. Kalau pun ada, pasti didekati dan ‘siram’ juga lah. Mana ada lho supir yang mau singgah kalo tau lokasinya masuk berita di media,” ujarnya.
Yang membuat heran, tegasnya, jika aktivitas ini tak melanggar hukum, kenapa dilakukan secara sembunyi. Lalu, jika memang ilegal, kenapa tak ditindak. “Kadang kalau kita minta dorong agar para mafia ini diungkap, alasan aparat ini adalah wewenang pemerindah daerah
soal usaha tak berizin,” kesalnya.
“Ada isu, kelompok paling besar di back up oleh pengusaha besar terkenal di Riau sebagai penghubung ke aparat. Anda bayangkan aja sendiri,” candanya.‎
Perlu diketahui, harga resmi CPO sendiri, ‎setelah terjun bebas alias anjlok selama 9 bulan terakhir, akhirnya berada di level 2.278 Ringgit Malaysia(Patokan Bursa Harga CPO, red) alias Rp.7.426.280 per ton ‎pada 15 Juli 2016 lalu.
“Kabarnya, jika dijual sekitar Rp6 ribuan per kilo, maka, untung sekitar Rp1 jutaan per ton. Hitungan kasar, jika sebanyak 8 ton senilai Rp8 juta dikalikan 30 kolam, maka peredaran uang bisnis ini berkisar Rp240 juta per hari. Omzet sebulan mencapai Rp7,2 milyar,” urainya.
Selain itu, jika diekspor melalui pasar gelap, dipastikan tak membayar Bea Keluar dan merugikan negara ini. “Makanya, jangan heran jika ada yang sampai nekad merampok mobil tangki,” tutupnya pasrah. [TIM]  //sumber:Beritariau.com,
– See more at: http://beritariau.com/berita-4885-mafia-kencing-cpo-makin-menjamur-di-riau-kenapa-ini-modus–lokasinya.html#sthash.WsrhJgsy.dpuf

Komentar Pembaca

komentar

#Tag : Riau | Berita Riau | Berita Rokan Hilir | Pekanbaru | Berita PekanbaruKampar | Siak | Walikota Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul 
Untuk Pemasangan Iklan Hubungi Kami : 0823 8639 7918

Check Also

Surat Edaran Cuti Bersama Lebaran 1438 H, Idul fitri 2017

TUTELAH.COM. Pekanbaru – Berdasarkan Surat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenpanRB) Republik Indonesia …